Seputarberita-Operator negara Angkasa Pura I, melalui anak perusahaan logistik Angkasa Pura Logistics (APL), telah meluncurkan layanan angkutan udara di tengah pandemi COVID-19, yang telah mengganggu bisnis kargo untuk maskapai penerbangan komersial.
APL, yang meresmikan peluncuran dengan penerbangan perdana pada hari Kamis, menawarkan layanan logistik yang menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses pesawat komersial karena landasan pacu pendek, menurut presiden direktur APL Danny Thaharsyah.
Kami bertujuan untuk memanfaatkan potensi bisnis angkutan udara Indonesia, yang dapat tumbuh secara eksponensial. Kami juga berusaha untuk mencapai daerah yang masih belum tersentuh oleh pesawat kargo lain, ”kata Danny saat konferensi pers pada hari Kamis. Untuk operasinya, perusahaan
akan menyediakan layanan angkutan udara ke sembilan kota di seluruh Indonesia, termasuk Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Denpasar di Bali, Makassar di Sulawesi Selatan, Ambon di Maluku dan Batam di Kepulauan Riau. Ini juga akan melayani layanan pengiriman internasional ke negara tetangga Singapura.
Transportasi udara di Indonesia sangat penting untuk menghubungkan ribuan pulau di seluruh nusantara. Banyak maskapai penerbangan komersial, yang sangat terpukul oleh pandemi, memanfaatkan perut pesawat mereka untuk mengangkut kargo selama penerbangan penumpang.
Danny mengatakan bahwa APL akan fokus pada pengiriman barang laut dan barang yang cepat rusak, yang membutuhkan waktu pengiriman cepat untuk memastikan kesegaran.
Selain kargo umum, barang laut juga memiliki potensi besar untuk layanan pengiriman kami karena Indonesia mengekspor sejumlah besar produk laut. Mereka juga perlu dikirim dengan cepat untuk memastikan kualitas produk, sesuatu yang tidak dapat ditawarkan oleh layanan pengiriman perut, ”katanya.
APL saat ini mengoperasikan Boeing 737 yang disewa dari Malindo Air pada bulan April dan sebuah kapal barang ATR disewa dari Pelita Air Services. Rencana untuk pesawat ketiga, yang juga akan disewa dari Pelita Air, akan mulai beroperasi pada bulan Juli.
AGENDOMINO
Menurut laporan yang dirilis tahun lalu oleh perusahaan konsultan Mordor Intelligence, bisnis angkutan udara Indonesia akan bernilai sekitar US $ 19,3 miliar pada 2024, pertumbuhan 110 persen dari 2018.
Rute domestik juga diperkirakan mendominasi pasar dengan 52 persen dari semua layanan angkutan udara. Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan APL memutuskan untuk memasuki bisnis angkutan udara untuk mendukung rantai logistik negara.
Angkutan udara di Indonesia saat ini masih sangat tergantung pada beban perut pesawat penumpang, yang akibatnya menghadapi gangguan ketika sebagian besar pesawat diterbangkan," katanya.
Volume angkutan udara domestik dan internasional negara itu turun 39 persen dari tingkat rata-rata di bulan Maret karena pendaratan pesawat, menurut data Asosiasi Pengangkutan Udara Nasional Indonesia (INACA).






0 comments:
Post a Comment