Seputarberita-Raksasa minyak dan gas milik negara Pertamina telah menegaskan kembali rencana untuk setidaknya satu anak perusahaan untuk go public dalam dua tahun ke depan, meskipun ada penolakan dari serikat pekerja, karena perusahaan berencana untuk merestrukturisasi bisnisnya.
Pertamina baru-baru ini mengumumkan akan merestrukturisasi puluhan anak perusahaan menjadi lima sub-cabang untuk hulu, penyulingan, listrik, gas dan perdagangan untuk meningkatkan efisiensi. Gas subholding PGN sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perusahaan mencari untuk melakukan subholding hulu, Pertamina EP, anak perusahaan berikutnya untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO), mengisyaratkan presiden direktur Pertamina Nicke Widywati selama webinar yang diselenggarakan oleh surat kabar Rakyat Merdeka pada 15 Juni. Tujuan pemegang saham bukanlah privatisasi. Ini bukan melepaskan saham Pertamina tetapi melakukan IPO anak perusahaan Pertamina, "katanya kepada anggota parlemen di Jakarta pada 22 Juni.
Lebih lanjut, dia menunjukkan bahwa, sesuai UU Minyak dan Gas 2001, semua ladang minyak dan gas di Indonesia adalah milik negara dan bukan perusahaan tertentu, termasuk Pertamina.
Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir pertama kali mengumumkan rencana IPO pada 12 Juni setelah pertemuan pemegang saham antara kementerian dan perusahaan minyak.
“Dalam dua tahun ke depan, kami berharap Bu Nicke dari Pertamina untuk membawa satu atau dua sub-kepemilikan publik agar menjadi lebih transparan dan akuntabel,” katanya.
AGENDOMINO
Sebagai perusahaan publik, misalnya, mengharuskan Pertamina untuk menerbitkan laporan keuangan triwulanan satu bulan setelah setiap triwulan berakhir, sesuai dengan peraturan saat ini. Perusahaan belum menerbitkan laporan keuangan kuartal pertama tahun ini.
Namun, rencana IPO tersebut mendapat perlawanan dari serikat pekerja internal perusahaan, Federasi Serikat Pekerja Serikat Buruh Pertamina (FSPPB) dan Serikat Pekerja EP Pertamina (SPPEP).
"Kontrol negara masih sangat dibutuhkan untuk melindungi Pertamina dari mafia minyak dan gas yang merajalela di pasar bebas," kata FSPPB dalam petisi, yang memiliki 14.900 tanda tangan pada Selasa.
FSPPB sebelumnya menolak pembentukan PGN subholding gas dan penunjukan mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sebagai komisaris Pertamina.






0 comments:
Post a Comment